KERJASAMA AMERIKA SERIKAT DAN TAIWAN
Keterlibatan Amerika Serikat di kawasan Asia Timur bukanlah hal yang tidak wajar, Amerika Serikat dan Asia Timur seakan-akan tidak dapat dipisahkan jika dilihat dari keberadaan Tiongkok diinilai sebagai ancaman. Peran AS menjadi sangat kuat setelah Perang Dunia II ditandai kekalahan Jepang. Meningkatnya ketegangan antara Uni Soviet dengan AS dari segi ideologi, teknologi, politik, maupun militer memnciptakan Perang Dingin menyebabkan peran AS di Asia Timur semakin meningkat dengan tujuan dan strategi baru yaitu anti-komunisnya. AS telah banyak berpartisipasi di Asia Timur, klaimnya sebagai pemimpin internasional dengan menanam nilai-nilai demokrasi, HAM, dan ekonomi pasarnya tidak dapat di bantah. Presepsi bahwa negara Asia-Pasifik dianggap termasuk dalam zona pengaruhnya sediri dikarenakan terakumulasi dalam samudra pasifik sehingga perlu pengawasan ketat. Pengaruh AS di Asia Timur sudah sejak lama tertanam dibidang ekonomi, politik, daan militer. Hal ini ditunjukan dengan sejarah konflik perpecahan di zona dimiliterisasi Korea, krisis selat Taiwan dengan peran dan tujuan AS yang bertolak belakang dengan Tiongkok, serta Laut China Selatan (Calder & Ye, 2010:227). Maka dapat disimpulkan Peran aktor global yakni AS di Asia Timur dapat dikatakan penting jika dilihat dari dinamika politik kawasan tersebut. Namun ada yang mengatakan seiring meningkatnya kooperasi antar tiga negara Korea Selatan, Jepang dan Tiongkok akan menyebaban berkurangnya dominasi AS di wilayah tersebut.
AS yang memiliki hubungan ekonomi dengan Tiongkok dan hubungan kerjasama militer dengan Taiwan yang merupakat sekutu lama AS membuat AS tidak bisa di cegah keterlibatannya. Apalagi konflik antara Tiongkok dengan Taiwan yang membuat AS harus turun tangan agar tidak melibatkan persenjataan militer. Tiongkok yang bangkit dalam bidang ekonomi dan militer telah meningkatkan ketakutan kepada sekutu-sekutu AS terutama Taiwan. Hubungan kerjasama Amerika Serikat dan Taiwan yang sudah berlangsung selama kurang lebih 60 tahun di latar belakangi oleh ketertarikan AS terhadap Taiwan yang mempunyai sistem politik berbeda dengan Tiongkok yang menganut ideologi komunis, AS yang dikenal dengan ideologi lebiral dan anti komunis itu tentu saja akan lebih berpihak pada Taiwan.
Namun kembali lagi pada kenyataan jika Amerika Serikat memiliki hubungan kerjasama dengan kedua negara tersebut yakni Tiongkok dan Taiwan, dukungan AS terhadap Taiwan yang ditandai dengan dukungan militer dan kerjasama AS dengan Tiongkok terkesan ambigu secara Tiongkok dan Taiwan adalah dua negara dengan konflik tanpa batas karena sejarahnya. Cinta segitiga antara Taiwan, AS dan Tiongkok berakhir setelah AS menandatangani perjanjian satu China dengan Tiongkok dengan tujuan AS ingin menormalisasi hubungan dengan Tiongkok. Dengan begitu hubungan kerjasama AS dan Taiwan menjadi hubungan yang tidak formal, meski begitu AS tetap mendukung Taiwan dengan mengirimkan bantuan militer meski kerap mendapat kecaman dari Tiongkok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar